Benarkah Lulusan Ilmu Murni Susah Dapat Kerja?

Discussion in 'Education' started by Fadli Hafizulhaq, Mar 12, 2021.

  1. Fadli Hafizulhaq

    Fadli Hafizulhaq Member

    Joined:
    Nov 23, 2015
    Messages:
    43
    Likes Received:
    5
    Trophy Points:
    8
    Sepanjang masa perjuangan saya di kampus, mulai dari S1 sampai selesai pascasarjana, saya mengamati bahwa tampaknya jurusan-jurusan yang masuk dalam kelompok ilmu murni lebih kurang diminati daripada ilmu terapan (contoh: teknik, farmasi, dsb).

    Alasannya tentu saja beragam, tapi yang paling mengemuka dari semua itu agaknya memang prospek kerja lulusannya. Prospek kerja lulusan ilmu murni tampak tidak sebanyak ilmu terapan.

    Sebagai contoh, prospek kerja teknik mesin sebagai ilmu fisika terapan lebih besar dibanding prospek kerja fisika itu sendiri. Hal ini masuk akal sih, karena memang sarjana teknik dapat bekerja di industri yang jumlahnya bejibun.

    Lalu, bagaimana dengan sarjana ilmu murni? Baik itu ilmu alam seperti matematika, fisika, kimia dan biologi; atau ilmu sosial seperti sejarah dan sebagainya?

    Oh ya, sebelum lanjut membaca, saya ingin menyatakan bahwa tulisan ini murni opini. Pembaca semua berhak menyetujui atau menolak sama sekali. Nah, mari kita lanjut.

    Keterbutuhan yang Sedikit Membuat Persaingan Semakin Sulit

    Rasanya kita tidak perlu berdebat mengapa lulusan ilmu teknik lebih banyak diserap lapangan kerja ketimbang ilmu alam murni. Toh kenyataannya memang industri butuh lebih banyak tenaga teknis ketimbang analisis.

    Menurut hemat saya, sulitnya alumni dari program studi jurusan murni mencari kerja adalah karena industri masih menganggap pekerjaan yang cocok bagi mereka adalah sebagai laboran, analisis dan hal-hal lainnya yang berkaitan dengan riset dan pengembangan (research and development/RnD). Dan tentu saja tim RnD tidak lebih banyak daripada tim teknis di lapangan.

    Kondisi tersebut semakin parah jikalau alumni jurusan ilmu murni ini tidak memiliki skill tambahan dan bergantung pada skor akademis yang didapatkan di kampus saja. Sementara saat ini dunia kerja terus berkembang dan membutuhkan talenta-talenta yang siap pakai untuk hal-hal yang baru, sebut saja cloud computing. Tidak ada salahnya mahasiswa fisika murni mempelajari tentang ini, toh masih ada kaitannya, bukan?

    Buat Pekerjaan Sendiri Adalah Solusi Terbaik

    Terlepas dari apa yang saya tuliskan di atas, nyatanya persaingan kerja yang sulit tidak hanya bagi lulusan ilmu murni saja, tetapi hampir semua program studi. Merujuk data dari BPS, per tahun 2019 saja, sebanyak 700 ribu lebih lulusan S1 hingga S3 masih menganggur.

    Jika ditanya mengapa, juga ada banyak sebab, salah satunya adalah jumlah lapangan pekerjaan yang tidak cukup dengan jumlah angkatan kerja yang tersedia. Nah, kalau sudah begini apa yang bisa dilakukan?

    Tentu saja: buat pekerjaan sendiri.

    Pendidikan tinggi mestinya membuat seseorang berkembang pola pikirnya sehingga tidak hanya bisa menjadi orang yang ditampung, tetapi juga orang yang menampung. Maksudnya bisa membuat lapangan kerja sehingga bisa menampung orang lain.

    Kembali ke lulusan ilmu murni tadi, apa yang telah ia pelajari di kampus mestinya bisa ia gunakan sebagai modal usaha. Katakanlah, yang paling dekat, usaha privat atau kursus yang dimulai dari diri pribadi atau tim kecil.

    Selain itu, ilmu yang dipelajari tentu saja juga bisa ditulis dan dipublikasikan di blog atau website agar bisa menjadi aset yang mendatangkan profit dalam waktu mendatang. Toh tidak sedikit blogger niche pendidikan yang bisa mendulang banyak uang per bulannya.

    “Tapi kan tidak semua orang bisa menulis…” sergah pembaca.

    Nah, oleh karena itulah, sangat penting bagi mahasiswa untuk mempelajari kemampuan tambahan yang bisa membuat mereka bertahan di pasca kampus (atau bahkan jadi side job semasa kuliah). Tidak harus menulis, berbagai kemampuan lain juga bisa dipelajari dan mendatangkan income, sebut saja fotografi, desain grafis, marketing dan sebagainya.

    Akhirnya, tulisan ini tak ubahnya sebuah refleksi dari pahitnya kehidupan pasca kampus dan beratnya persaingan untuk mencari kehidupan. Terlepas dari setuju atau tidak, terima kasih sudah membaca, salam hangat dan sukses dari saya--lulusan S3 yang masih nge-freelance sebagai blogger dan penulis.
     
  2. Mas Her

    Mas Her Member

    Joined:
    Oct 14, 2020
    Messages:
    99
    Likes Received:
    6
    Trophy Points:
    18
    Mungkin memang baiknya selain ilmu, butuh yang namanya pengalaman juga ya. Karena ya dengan begitu bisa keliatan ilmunya bisa diterapkan dengan baik atau tidak. Untuk buka peluang sendiri juga boleh boleh aja, namun saat pandemi seperti ini mungkin lebih sedikit yang bisa berani ambil resiko seperti itu. IMO
     
  3. Fadli Hafizulhaq

    Fadli Hafizulhaq Member

    Joined:
    Nov 23, 2015
    Messages:
    43
    Likes Received:
    5
    Trophy Points:
    8
    Iya Mas, membuka bisnis atau menciptakan pekerjaan sendiri memang penuh resiko, makanya lebih banyak orang memilih jalur aman dengan jadi karyawan saja. Entah itu untuk sepanjang hidupnya atau hanya untuk cari pengalaman tadi, abis itu buka bisnis sendiri, hehe
     
Loading...

Share This Page