Ini dia kisah awalnya almanak Jawa

Discussion in 'General Discussion' started by Digiyan, Feb 23, 2019.

  1. Digiyan

    Digiyan New Member

    Joined:
    Nov 12, 2016
    Messages:
    10
    Likes Received:
    0
    Trophy Points:
    1
    Kalender Jawa atau biasa disebut Penanggalan Jawa merupakan sistem penanggalan yang dipakai oleh Kesultanan Mataram dan berbagai kerajaan potongan nya beserta yang mendapat pengaruhnya. Sistem Penanggalan ini memiliki keistimewaan karena menyatukan sistem penanggalan Islam, sistem Penanggalan Hindu, dan tambahan penanggalan Julian yang mewujudkan bagian dari budaya Barat.

    Sistem kalender Jawa https://waktu.id/kalender-jawa/ memakai dua siklus hari: siklus mingguan yang terdiri dari tujuh hari, yakni Ahad - Sabtu dan siklus pekan pancawara yang terdiri dari lima hari pasaran. Pada tahun 1625 Masehi atau(1547 Saka), Maharaja Agung dari Mataram berusaha keras menanamkan agama Islam di pulau Jawa. Salah satu upaya nya yaitu mengganti penanggalan Saka yang berbasis pada pergantian matahari dengan sistem kalender kamariah atau lunar yang mengusung pergantian bulan. Uniknya, angka tahun Saka tetap dipakai dan diteruskan, tidak menggunakan perhitungan dari tahun Hijriyah( saat itu1035 H). Hal ini dilakukan demi asas kesinambungan, sehingga tahun saat itu yang adalah tahun 1547 Saka diteruskan menjadi tahun 1547 Jawa.

    Dekret Kaisar Agung terjadi di seluruh & wilayah Kesultanan Mataram: seluruh pulau Jawa dan Madura kecuali Banten, Batavia dan Banyuwangi (= Balambangan). Ketiga daerah terakhir ini tidak termasuk wilayah kuasa Kaisar Agung. Tanah Bali dan Palembang yang mendapatkan pengaruh adat istiadat Jawa, juga tidak ikut mengambil alih kalender karangan Kaisar Agung ini.

    Di bawah ini disajikan nama-nama bulan Jawa versi Islam. Sebagian nama bulan diambil dari Kalender Hijriyah, dengan menggunakan kosakata Arab, namun beberapa di antaranya menggunakan nama dalam bahasa Sanskerta seperti Pasa, Sela dan nampaknya juga Sura. Sedangkan nama Apit dan Besar bermula dari bahasa Jawa dan bahasa Melayu. Nama-nama ini adalah nama bulan kamariah atau candra (lunar). Penamaan bulan sebagian ada kaitannya dengan hari-hari besar yang ada dalam bulan lunar, seperti bulan Pasa ada hubungannya dengan ibadah puasa Ramadhan, Mulud ada hubungannya dengan Maulid Nabi pada bulan Rabi'ul Awal, dan Ruwah ada hubungannya dengan Nisfu Syaban di mana dianggap simbol amal apa saja yang sudah dilakukan selama setahun terakhir.
     
Loading...

Share This Page