Jenis dan Alasan Mengapa Ilmu itu Bermanfaat

Discussion in 'General Discussion' started by Abu Ubaidillah, Apr 20, 2020.

  1. Abu Ubaidillah

    Abu Ubaidillah New Member

    Joined:
    Apr 14, 2019
    Messages:
    27
    Likes Received:
    0
    Trophy Points:
    6
    [​IMG]

    foto: https://www.mustafalan.com

    [1]. Ilmu tentang Allah, Nama-Nama, dan sifat-sifat-Nya dan juga hal-hal yang berkenaan dengannya. Contohnya adalah sebagaimana Allah menurunkan surat al-Ikhlaash, ayat Kursi, dan sebagainya.

    [2]. Ilmu tentang berita berasal berasal dari Allah tentang hal-hal yang telah berlangsung dan mampu berlangsung di jaman berkunjung dan juga yang tengah terjadi. Contohnya adalah Allah menurunkan ayat-ayat tentang kisah, janji, ancaman, sifat Surga, sifat Neraka, dan sebagainya.

    [3]. Ilmu tentang perintah Allah yang berkenaan bersama bersama bersama bersama hati dan perbuatan-perbuatan anggota tubuh, layaknya beriman kepada Allah, ilmu ilmu tentang hati dan kondisinya, dan juga perkataan dan tingkah laku anggota badan. Dan tentang ini masuk di dalamnya ilmu tentang dasar-dasar keimanan dan tentang kaidah-kaidah Islam dan masuk di dalamnya ilmu yang mengkaji tentang perkataan dan perbuatan-perbuatan yang jelas, layaknya ilmu-ilmu fiqih yang mengkaji tentang hukum amal perbuatan. Dan tentang itu merupakan anggota berasal berasal dari ilmu agama. [4]

    Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah (wafat tahun 728 H) rahimahullaah juga berkata, “Telah bicara Yahya bin ‘Ammar (wafat tahun 422 H), ‘Ilmu itu tersedia lima:

    (1). Ilmu yang merupakan kehidupan bagi agama, yaitu ilmu tauhid

    (2). Ilmu yang merupakan santapan agama, yaitu ilmu tentang mempelajari makna-makna Al-Qur-an dan hadits

    (3). Ilmu yang merupakan obat agama, yaitu ilmu fatwa. Apabila suatu musibah (malapetaka) berkunjung kepada seorang hamba, ia harus orang yang mampu menyembuhkannya berasal berasal dari musibah itu, sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Mas’ud radhiyallaahu ‘anhu

    (4). Ilmu yang merupakan penyakit agama, yaitu ilmu kalam dan bid’ah, dan

    (5). Ilmu yang merupakan kebinasaan bagi agama, yaitu ilmu sihir dan yang sepertinya.’”

    ILMU YANG TIDAK MANFAAT
    ilmu tak berguna didalam empat kategori.
    Pertama, ilmu ilmu yang haram dipelajari, layaknya ilmu sihir, ilmu perbintangan dan lain sebagainya.
    Kedua, ilmu ilmu yang tidak dibarengi amal nyata.
    Ketiga, ilmu ilmu yang tidak cukup mampu untuk membersihkan hati bersama bersama bersama bersama etika mulia. Dan yang
    keempat adalah ilmu ilmu yang tidak dibutuhkan didalam agama.[4]

    ILMU TERCELA
    Imam Al-Ghazali berikan tambahan analisis, bahwa terhadap dasarnya hakikat ilmu itu sendiri bukanlah suatu tentang yang tercela. Hanya saja, kecuali ilmu ini telah berada di benak hamba, mampu menjadi tercela gara-gara tiga faktor.
    Pertama, keberadaan ilmu selanjutnya mampu mendatangkan marabahaya bagi pemiliknya, atau bagi orang lain. Seperti ilmu sihir dan ilmu ramal.
    Kedua, keberadaan ilmu selanjutnya umumnya mampu sebabkan efek negatif, layaknya ilmu nujum (perbintangan). Karena lebih berasal dari satu berasal berasal dari ilmu ini justru dipergunakan untuk perhitungan penentuan masuknya selagi sholat, arah kiblat, wejangan mengawali jaman tanam, dan faedah positif lainnya. Hanya saja, gara-gara di samping manfaat-manfaat di atas, ilmu perbintangan juga dipergunakan untuk menebak dan meramal nasib seseorang di jaman yang mampu datang, maka tentang selanjutnya mampu sebabkan kurang percaya mampu qadla' dan qadar Allah, supaya menjadikan seseorang muncul berasal berasal dari keimanan.

    Ketiga, bertekun secara mendalam ilmu ilmu yang mempunyai efek pelakunya tidak mampu menggapai faidah ilmu yang seharusnya. Hal ini kecuali berlangsung skala prioritas yang salah, bersama bersama bersama bersama mendahulukan mempelajari ilmu ilmu secara mendalam, sebelum bakal selagi menguasai dasar-dasarnya, atau mempelajari ilmu ilmu yang berskala kewajiban kolektif (fardlu kifayah) sebelum bakal selagi menuntaskan penguasaan terhadap ilmu ilmu berskala kewajiban individual (fardlu 'ain). Atau mempelajari ilmu ilmu yang tidak selayaknya dipelajari, gara-gara tentang selanjutnya berada di luar jangkauan kekuatan hamba, layaknya menelusuri hakikat ketuhanan, sebagaimana yang dilakukan kalangan filosof Yunani, atau menelusuri ilmu yang selayaknya hanya mampu diketahui melalui intuisi wahyu.[5]

    TANDA-TANDA ILMU BERMANFAAT
    Ilmu yang berguna mampu muncul terhadap seseorang bersama bersama bersama bersama tanda-tandanya, yaitu:
    1. Beramal dengannya.
    2. Benci disanjung, dipuji dan takabbur atas orang lain.
    3. Semakin bertawadhu' selagi ilmunya tambah banyak.
    4. Menghindar berasal berasal dari cinta kepemimpinan, ketenaran dan dunia.
    5. Menghindar untuk mengaku berilmu.
    6. Bersu'udzan (buruk sangka) kepada dirinya dan husnudzan (baik sangka) kepada orang lain didalam rangka menjauhi celaan kepada orang lain.

    TANDA-TANDA ILMU TIDAK BERMANFAAT
    Sebaliknya ilmu yang tidak berguna juga mampu muncul tanda-tandanya terhadap orang yang menyandangnya yaitu:
    1. Tumbuhnya sifat sombong, sangat berambisi didalam dunia dan berlomba-lomba padanya, sombong terhadap ulama, mendebat orang-orang bodoh, dan memalingkan perhatian manusia kepadanya.
    2. Mengaku sebagai wali Allah Subhanahu wa Ta'ala, atau menjadi suci diri.
    3. Tidak rela terima yang hak dan tunduk kepada kebenaran, dan sombong kepada orang yang mengucapkan kebenaran kecuali derajatnya di bawahnya didalam pandangan manusia, dan juga senantiasa didalam kebatilan.
    4. Menganggap yang lainnya bodoh dan mencatat mereka didalam rangka menambah dirinya di atas mereka. Bahkan kadang selagi menilai ulama terdahulu bersama bersama bersama bersama kebodohan, lalai, atau lupa supaya tentang itu menjadikan ia mencintai berlebihan yang dimilikinya dan berburuk sangka kepada ulama yang terdahulu.

    CIRI ORANG YANG ILMUNYA BERMANFAAT
    Ilmu yang berguna mampu diketahui bersama bersama bersama bersama menyaksikan kepada pemilik ilmu tersebut. Di terhadap tanda-tandanya adalah:

    [1]. Orang yang berguna ilmunya tidak hiraukan terhadap suasana dan kedudukan dirinya dan juga hati mereka membenci pujian berasal berasal dari manusia, tidak berpikiran dirinya suci, dan tidak sombong terhadap orang lain bersama bersama bersama bersama ilmu yang dimilikinya.

    Imam al-Hasan al-Bashri (wafat tahun 110 H) rahimahullaah mengatakan, “Orang yang faqih semata-mata orang yang zuhud terhadap dunia, sangat mengidamkan kehidupan akhirat, memahami agamanya, dan rajin didalam beribadah.” Dalam riwayat lain beliau berkata, “Ia tidak iri terhadap orang yang berada di atasnya, tidak sombong terhadap orang yang berada di doa ketika turun hujan bawahnya, dan tidak menyita imbalan berasal berasal dari ilmu yang telah Allah Ta’ala ajarkan kepadanya.” [1]

    [2]. Pemilik ilmu yang bermanfaat, kecuali ilmunya bertambah, menjadi malah pula sikap tawadhu’, rasa takut, kehinaan, dan ketundukannya di hadapan Allah Ta’ala.

    [3]. Ilmu yang berguna mengajak pemiliknya lari berasal berasal dari dunia. Yang paling besar adalah kedudukan, ketenaran, dan pujian. Menjauhi tentang itu dan bersungguh-sungguh didalam menjauhkannya, maka tentang itu adalah isyarat ilmu yang bermanfaat.

    [4]. Pemilik ilmu ini tidak mengaku-ngaku punyai ilmu dan tidak berbangga dengannya terhadap seorang pun. Ia tidak menisbatkan kebodohan kepada seorang pun, kecuali seseorang yang jelas-jelas menyalahi Sunnah dan Ahlus Sunnah. Ia marah kepadanya gara-gara Allah Ta’ala semata, bukan gara-gara pribadinya, tidak pula berniat meninggikan kedudukan dirinya sendiri di atas seorang pun.
     
Loading...

Share This Page