Kelemahan Sistem Full Day School dan Diskursusnya terhadap Budaya Bangsa

Discussion in 'Education' started by ahsol matkan, Sep 4, 2016.

Tags:
  1. ahsol matkan

    ahsol matkan Member

    Joined:
    Sep 3, 2016
    Messages:
    41
    Likes Received:
    3
    Trophy Points:
    8
    Wacana sekolah seharian penuh full day scool yang digagas oleh Kemendikud mendapat tanggapan pro dan kontra dari masyarakat Meski sitem sekolah ini telah mendapat perhatian dari presiden.

    [​IMG]
    gambar: Tempo. co

    Kalangan masyarakat yang menyatakan pro, ini merupakan terobosan apik dari pemerintah terhadap sistem pendidikan di Indonesia. Sebab dengan adanya sistem tersebut jam belajar siswa relatif panjang di sekolahan. Artinya, kegiatan siswa menjadi lebih termonitoring serta mengarah kepada aktivitas positif, Sekolah menjadi rumah kedua.

    Sebaliknya, sebgian besar lagi masyarakat menolak wacana sekolah seharian penuh. Dengan menambah intesitas waktu, tentu akan menyebabkan siswa kelelahan. Sehingga jam tambahan ini malah kurang efektif. Belum lagi masalah kesiapan fasilitas sekolah serta guru yang minim pengalaman. Belum lagi sekolah-sekolah di daerah pedesaan.

    Sekolah sehari penuh memang baru wacana yang digulirkan pemerintah. Mungkin saja direalisasikan, bisa juga hanya sebuah langkah pemerintah untuk meminta pendapat publik saja. Perlu kajian yang lebih serius lagi untuk diterapkan, untuk mengetahui tepatkah diterapkan di Indonesia, berdasarkan aspek budaya, geografis, demografi dan kondisi ekonominya. Pemerintah tidak boleh mengadopsi sistem dari luar negeri kemudian langsung menerapkan di Indonesia.

    Berkaca pada Sistem Pendidikan Amanat UUD
    Mari kita cermati wacana Ful Day School ini. Seorang siswa harus belajar di sekolahan lebih panjang dari biasanya. Dari jam 07.00 hingga 17.00. Padahal secara keseluruhan sekolah-sekolah di Indonesia masih terpaku pada satu aspek akademik atau kognitif semata, sebagai tolak ukur keberhasilan pendidikan. Bukan pengetahuan yang bertambah, melainkan kejenuhan bahkan stress akan meningkat.

    Hal ini menyalahi amanah Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 Tentang tujuan pendidikan nasional. “Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakawa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat,, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis sert bertanggung jawab. Dengan kata lain, sisi-sisi lain peserta didik seperti afektif dan psikomotorik tidak boleh terbengkalai. Sedangkan peserta didik butuh dunia yang lebih luas guna mengembangkan potensinya.

    Sepintas
    Full Day School dapat dikatagorikan sebagai implemenasi penidikan karakter yang sedang digiatkan oleh pemerintah. Bahkan sesuai dengan revolusi mentalnya Pak Jokowi. Sebab sistem sekolah seperti ini terlihat mampu meminimalisir anak dari aktivitas negatif, seperti bermain secara berlebihan, bersosialisasi dengan lingkungan yang kurang baik atau bahkan melakukan tindak kriminal hingga terjebak seks dan narkoba.

    Perlu kita amati dan cermati, bukankah bila anak seharian belajar di sekolahan justru akan mengurangi waktu bersosialisasi dengan lingkungannya. Kurang mampu mengembangkan skill yang dimilikinya. Bahkan dapat membunuh kreativitas anak. sebab hanya dihadapkan pada ruang dan waktu yang sama. Padahal karakter manusia terbentuk melalui ruang dan waktu yang tak terbatas. Apalagi bangsa kita merupakan bangsa timur. Masih memegang adat dan budaya yang bermacam-macam serta heterogen.

    Diskursus terhadap Fungsi dan Budaya Bangsa
    Maka dari itu, perlu kita kembalikan lagi tujuan diadakannya sekolah sebagai penunjang pendidikan nasional. yakni mendidik manusia menuju kesmpurnaan. Menumbuh kembangkan potensi peserta didik baik itu aspek kognitif, psikomotorik atau pun afektif.

    [​IMG]
    Gambar: nazarul14.files.wordpress.com

    Dan tak boleh kita lupakan, sekolah bukan satu-satunya institusi pendidikan. Sekolah merupakan tempat pembekalan serta simulasi peserta didik untuk menyongsong masa depan, membantu mengatasi problem kehidupan baik individu maupun sosial. Oleh sebab itu, keterlibatan peserta didik dalam lingkungan masyarakat luas sangat penting. Peserta didik merupakan subjek aktif di dalam jejaring masyarakat, karena ia memiliki peran masing-masing yang tentu akan berakibat tidak baik bila terjadi perpisahan yang menyebabkan keterasingan peserta didik itu sendiri.

    Di dalam masyarakat terdapat fungsi sosial dan keluarga, Sehingga kalau fungsi ini tercerabut, akan mengakibatkan dampak kurang baik bagi perkembangan peserta didik. Kedua fungsi ini mempunyai norma dan nilai-nilai tersendiri. Sekolah sebagai kompenen yang hadir di tengahnya justru harus mampu menjadi jembatan antara fungsi keluarga dan sosial bukan malah menyekatnya.

    Untuk saat ini yang terpenting meningkatkan mutu dan kualitas pendidikan yang mengacu pada amanat Undang-Undang yang berprinsip pancasila. Berikanlah peserta didik porsi waktu untuk belajar pada fungsi keluarga dan sosial masyarakat. Sehingga terbentuklah sumber daya manusia yang beritegritas, beretos kerja, tetap melestarikan gotong-royong dan memahami budaya sebagai ciri khas bangsa Indonesia. Dan akhirnya memiliki karakter. Maka pemahamanpendidikan yang holistik sangat diperlukan di sini.

    Terakhir coba kita renungkan bagaimana induk ikan melatihn anakya untuk hidup di air. Induk ikan tidak pernah mengajarkan banyak hal untuk hidup di air, sebab air adalah habitat ikan itu sendiri.


    Demikian kelemahan sistem full day school dan diskursusnya terhadap fungsi serta budaya bangsa. Semoga bermanfaat.


    Sumber: http://ahsolmatkan.blogspot.co.id/2016/09/kelemahan-sistem-full-day-school-dan.html

    Perhatikan jumlah LINK OUT - nya sesuai RULES !!!!
     
    Last edited: Sep 5, 2016
    lasealwin likes this.
  2. katon

    katon Active Member

    Joined:
    Nov 19, 2015
    Messages:
    1,218
    Likes Received:
    91
    Trophy Points:
    48
    Kita harus banyak mencontoh gaya pendidikan luar negeri, lihatlah adakah di antara mereka (negara lain) semua yang menerapkan full day scool? kalau pun ada itu negara gila namanya,, saya tidak setuju!
     
  3. ahsol matkan

    ahsol matkan Member

    Joined:
    Sep 3, 2016
    Messages:
    41
    Likes Received:
    3
    Trophy Points:
    8
    Iya gan, tapi ada beberpa sistem negara lain yang kurang cocok untuk Indonesia. Untuk inspirasi bisa mungkin,
     
  4. Aneba

    Aneba Member

    Joined:
    Aug 26, 2016
    Messages:
    98
    Likes Received:
    4
    Trophy Points:
    8
    Kalau sesekali sih ga apa2, asal jangan tiap hari aja. Misalnya sebulan sekali full day school mungkin masih bisa diterima
     
  5. ahsol matkan

    ahsol matkan Member

    Joined:
    Sep 3, 2016
    Messages:
    41
    Likes Received:
    3
    Trophy Points:
    8
    Hehe, sulit juga kayaknya gan, kalau pemerintah bikin sistem kayak gitu. Soalnya mereka gak mau ribet.
     
  6. firda63

    firda63 Member

    Joined:
    Dec 19, 2015
    Messages:
    763
    Likes Received:
    23
    Trophy Points:
    18
    buat sistem pendidikan yg enitik beratkan porsi yg sesuai dgn bangsa, cara boleh meniru negara lain, tp hrs dipertimbangkan lebih detail efek baik buruknya, ini menyangkut generasi penerus
     
  7. ahsol matkan

    ahsol matkan Member

    Joined:
    Sep 3, 2016
    Messages:
    41
    Likes Received:
    3
    Trophy Points:
    8
    makanya itu Gan, harus ada riset yang terukur dulu. jangan sampai kebijakan justru buat masalah baru,,
     
  8. lasealwin

    lasealwin Well-Known Member

    Joined:
    Aug 1, 2015
    Messages:
    1,877
    Likes Received:
    174
    Trophy Points:
    63
    Yes teman
    Intinya adalah bukan hanya otak/ intelektual yang dibina melainkan moralitas dan sosial juga.
    Salam....
     
  9. Squline Media

    Squline Media Member

    Joined:
    Oct 20, 2016
    Messages:
    160
    Likes Received:
    1
    Trophy Points:
    18
    bener juga gan, ane setuju, wkwkwk
     
  10. david333

    david333 New Member

    Joined:
    May 14, 2018
    Messages:
    7
    Likes Received:
    0
    Trophy Points:
    1
    wah ini keren sekali, sederhananya pendidikan tidak selamanya harus dicekoki. Masing-masing peserta didik juga memiliki kreatifitas untuk belajar secara mandiri. Dalam konteks ini berarti guru hanya berperan sebagai pendamping atau fasilitator. Keren juga sih
     
Loading...

Share This Page