Merah Putih?

Discussion in 'General Discussion' started by Joko Yuliyanto, Mar 21, 2018.

  1. Joko Yuliyanto

    Joko Yuliyanto New Member

    Joined:
    Mar 21, 2018
    Messages:
    1
    Likes Received:
    1
    Trophy Points:
    3
    Merah putih apa?

    Waktu SD sering diceritakan sejarah Indonesia. Jaman saya dulu, tidak tahu kalau sekarang. Termasuk di dalamnya adalah sejarah warna merah-putih Indonesia. Merah putih memanggil. Masih ingat dulu guru menerangkan bahwa warna bendera Indonesia adalah hasil perjuangan para pahlawan yang merobek warna biru Belanda (Negara penjajah) untuk membentuk warna bendera baru.

    Dulu sih mengiyakan saja apa yang diajarkan guru. Kan guru musti digugu dan ditiru. Sampai soal essay, saya masih ingat juga menjawab apa yang disampaikan guru tersebut. Dan benar!! sejak saat itu saya meyakini bahwa pembentukan warna merah-putih se-simple itu. Tidak tahu apakah guru tersebut memang sengaja agar murid gampang memahami sebagai upaya penanaman jiwa nasionalisme. Atau memang guru tersebut tidak paham? Semoga guru-guru saya dimudahkan segala urusan di dunia dan akherat. Amin.

    Saat duduk di bangku SMA, saya sedikit memahami filosofi merah-putih. Katanya, Merah melambangkan keberanian dan putih melambangkan kesucian. Jadi merah-putih, adalah keberanian berjuang dalam jalan kebenaran. Kemudian banyak muncul lagu nasionalis “Merah darahku, putih tulangku”. Lebih cocok lagu biologis sih daripada lagu nasionalis.

    Kemudian saya cari lagi filosofi merah-putih di beberapa artikel. Karena tidak mungkin Soekarno teriak lantang pada pidato “Apa Sebab Revolusi Kita Berdasar Pancasila” tanggal 24 Desember 1955 tentang semangat mempertahankan merah-putih. Ternyata warna merah-putih sudah sangat melekat di dalam masyarakat Indonesia sejak jaman dulu kala. Bahkan sebelum adanya kerajaan di Nusantara.

    Waktu itu masyarakat masih beraliran animisme dan dinamisme, menyembah tumbuhan, batu, dan matahari. Nah, filosofi warna merah adalah matahari dan warna putih adalah bulan sebagai pemberi kehidupan. Disebutnya Sang Hyang Surya Candra atau Dewa yang mengatur siang dan malam. Surya (Matahari), candra (Bulan).

    Merah juga menandakan arti getih yang disimbolkan dengan hewan. Sedangkan putih adalah getah yang berarti tumbuhan. Getah dan getih adalah identitas yang dimiliki semua makhluk. Sedangkan filosofi lainnya adalah tentang jati diri manusia. Proses kelahiran. Bahwa merah adalah perempuan (menstruasi) sedangkan putih adalah laki-laki (sperma).

    Sejarah juga mencatat, bahwa sejak zaman kerajaan Sriwijaya, Singosari hingga Mataram. Banyak menggunakan panji bendera merah-putih yang disebutnya sebagai pasukan Gula Klopo. Sedangkan di beberapa mayarakat yang masih kental nuansa jawa. Saat berbagai acara seperti kelahiran, pernikahan, membangun rumah dan lain sebagainya, masih menggunakan jenang merah-putih atau bubur sengkolo sebagai jalan agar diberikan keselamatan, kebahagiaan dan keberkahan. Jadi merah-putih sudah tertanam erat di masyarakat Indonesia sebelum adanya penjajahan, bahkan kemunculan kerajaan di nusantara. Merah-putih adalah makna kehidupan yang menjadi simbol, lambang, semangat dan jiwa bangsa Indonesia.

    Merah-Putih 2018?

    [​IMG]

    ideapress.com



    Ini tulisan analogi. Semoga paham. Seharusnya ya paham, apalagi buat pembaca pecandu berita nasional. Merah putih ini sudah ada sejak orde lama. Bukan hanya tentang politik, seniman juga terlibat dalam persimpangan jalan merah dan putih. Merah yang berkuasa mencoba dikudeta sama putih. Kalau dalam filosofi terdahulunya beriringan, pasca kemerdekaan terkesan bersebrangan. Mungkin berani dan suci adalah sifat yang berbeda bagi yang tidak mengetahui makna bhineka tunggal ika.

    Dulu sebenarnya ada tokoh baru berwarna kuning. Sehingga putih tidak begitu nampak setelah ditumpas habis sama si merah. Tidak tahu apakah sebenarnya kuning hanya sebuah kamuflase dari si putih yang berjuang mengkudeta si merah. Alhasil tahun 1965, kuning berhasil memporakporandakan si merah dengan isu yang terlanjur tertanam pada diri pejuang masyarakat “gagal paham” ketika itu. Kuning berkuasa selama berpuluh-puluh tahun. Merah bersembunyi di kolong jembatan. Kuning sesekali berafiliasi dengan putih untuk mengembalikan identitasnya. Hingga akhirnya bermunculan warna lain seperti hijau, hijau muda, dan biru muda. Reformasi!!

    Bukan lagi merah-putih yang bersebrangan. Saat itu muncul banyak jalan (cabang) seperti pelangi yang setia menunggu hujan reda. Kuning digulingkan seraya teriak revolusi menuju perubahan. Warna-warni “bendara” tidak lagi terelakan. Mulai dari biru tua, orange, pink, hingga putih yang kembali eksis setelah hanya sebagai bayangan si kuning. Semangat berani di jalan yang benar berubah menjadi penakut di jalan yang salah.

    Merah kembali bergairah. Penuh amarah untuk kembali berkuasa. Kuning tidak mau kalah meski sudah mengidentikan diri dengan KKN. Hijau masih dengan semangat menjadi poros baru menyeimbangkan merah dan putih. Putih merangkak menjadi benalu di semua warna. Biru muda hanya koar-koar di balik tembok reformasi. Sedangkan biru tua menjadi tokoh super yang menghipnotis semua warna tunduk kepadanya. Warna lama hanya tertunduk saling menuding akan kesalahan masing-masing. Merah yang semula marah menjadi lemah, kuning yang semula spaning menjadi pening. Biru muda yang semula pembeda menjadi mengada-ada. Hijau yang meninjau menjadi sarang ranjau. Putih tetap saja menjadi benalu yang terlatih.

    Generasi milenial akhirnya mencoba membuka tabir warna-warni. Mencoba mengembalikan identitas asli merah-putih. Yang terjadi adalah reinkarnasi di jaman 1960-an. Merah berkuasa, putih menjadi frasa. Warna lain hanya plonga-plongo menyimak perang yang super intelektual di antara keduanya. Putih menyamar menjadi orange dan membentuk kekuatan besar menggulingkan kekuasaan si merah. 1965 saja bisa, kenapa sekarang tidak? Berbagai isu ditawarkan. Dari yang benar-banar shoheh hingga yang luar biasa hoax. Namun karena masyarakat sekarang tidak sebodoh masa silam (tidak mengenyam pendidikan). Maka agak terkesan sulit. Soalnya untuk menggulingkan sebuah rezim tidak cukup hanya dengan pemberitaan minor, apalagi penuh dengan hujata yang tidak bersumber. Kebencian tanpa didasari jiwa menyatukan namun memisahkan.

    Beberapa tokoh putihpun satu persatu diciduk oleh merah. Parah. Putih juga mengakui kalau perlakuannya adalah kejahatan. Yah, masak putih kotor, putihkan harusnya bermakna suci. Sedangkan si merah tidak lagi berani. Mereka tetap butuh dukungan dari warna-warna lain untuk mempertahankan kekuasaannya. Merah terbang ke sana ke mari untuk merangkul dan ngopi bareng di sangkar tahi lalat.

    Hijau mengajukan diri menjadi istri si merah, diikuti biru muda yang dulu lantang teriak reformasi. Kini yang terbaru adalah biru tua yang beberapa tahun kebelakang sempat redup. Kuning dan biru baru menyusun rencana kampanye di otak masyarakat melalui tayangan kotak ajaib. Warna-warna “bau kencur” juga sok-sokan mengubah pola pikir masyarakat. Tapi tidak punya identitas. Indonesia bukan lahan eksis!! miris.

    Setelah dua gugusan besar menjadi identitas warna yang kuat. Maka yang terjadi adalah poros dari hulu hingga hilir hanya terlihat dua warna. Sayangnya mereka tidak berdampingan dan beriringan. Tapi saling susul agar sampai ke hilir. Ajang balapan liar ini disaksikan warna lain yang bertepuk tangan memberi semangat di pinggir tanggul-tanggul.

    2018. Melihat putih yang kewalahan mengejar merah. Maka kuning siap menggantikan dengan semangat dan stamina baru. Selamat datang di pertempuran PKI dan DI/TII, Soekarno dan Soeharto, Orde lama dan Orde baru, Islamis dan Nasionalis, Pancasia dan khilafah!!! Semoga Indonesia tetap aman dan sentosa meski filosofi merah dan putih tidak sama lagi seperti sedia kala.

    http://www.kaumminor.com/
     
    Tammy Joe likes this.
Loading...

Share This Page