Sebelum Percaya, Baca Penjelasan Tentang Mitos Vaksin COVID-19 Ini

Discussion in 'Science' started by bimo dimas, Apr 9, 2021.

  1. bimo dimas

    bimo dimas Member

    Joined:
    Oct 26, 2020
    Messages:
    193
    Likes Received:
    0
    Trophy Points:
    18
    [​IMG]

    Merahputih.com - Indonesia telah melewati 1 juta kasus COVID-19 dengan angka kematian yang terus naik. Pergerakan kurva pandemi yang belum juga melandai menambah buruk angka-angka tersebut.

    Belum lagi dengan kemunculan varian baru dengan mutasi yang dapat membuat COVID-19 lebih mudah menular, bahkan mungkin lebih mematikan. Namun, ada juga berita menggembirakan, dengan adanya vaksin yang diizinkan untuk penggunaan darurat oleh BPOM dan sudah mulai diberikan pada para pemimpin negara dan daerah serta para tenaga kesehatan. Kemudian beberapa golongan masyarakat lainnya yang rentan terhadap virus ini.

    Bagi mereka yang ragu akan vaksin, mari kita bongkar mitos umum tentang vaksin dan mengurai kesalahpahaman berdasarkan penjelasan Dr. Leana Wen, dokter UGD dan profesor tamu di Sekolah Kesehatan Masyarakat Institut Milken Universitas George Washington, AS seperti diberitakan cnn.com (28/1).

    "Salah satu prinsip utama dalam kesehatan masyarakat adalah bahwa pembawa pesan seringkali lebih penting daripada pesannya. Anda adalah pembawa pesan paling tepercaya bagi seseorang, misalnya untuk orangtua, rekan kerja atau teman. Membuat orang mau divaksinasi adalah harapan terbaik untuk mengakhiri pandemi ini," kata Dr. Wen.

    Dengan memahami mitos-mitos berikut, kamu bisa lebih percaya tentang manfaat vaksin COVID-19 dan ikut memberikan penjelasan agar penyebaran vaksi semakin luas dan menyeluruh.

    1. Vaksin jadi terkena virus corona

    "Saya juga mendengar ini setiap tahun dalam hal vaksin flu: Seringkali, pasien akan mengatakan bahwa mereka tidak ingin mendapatkan vaksin flu karena mereka mengira mereka akan tertular flu dari vaksin tersebut," jelas Dr. Wen. Menurutnya, itu tidak benar. Tidak ada vaksin yang mengandung virus hidup. Jadi tidak mungkin tertular virus corona dari vaksin COVID-19.

    2. Teknologi mRNA yang terlalu maju

    Menurutnya, ada dua poin di sini dan dua cara untuk menangani masalah ini. "Pertama, teknologi mRNA sebenarnya telah dikembangkan selama lebih dari satu dekade. Kedua, menurut saya penting untuk menjelaskan bahwa tidak ada jalan pintas yang diambil dalam penelitian ilmiah atau proses persetujuan. Ya, para ilmuwan memang mengembangkan vaksin dalam waktu singkat. Tapi itu karena seluruh komunitas ilmiah global mulai bekerja," dia menekankan. Para ilmuwan tidak memulai dari awal. Setelah wabah SARS dan MERS, banyak pekerjaan telah dilakukan untuk memulai pengembangan vaksin.

    3. Reaksi alergi

    "Memang benar ada beberapa laporan tentang reaksi alergi terhadap vaksin. Reaksi alergi dapat terjadi pada hampir semua produk medis. Di UGD, kami menangani reaksi alergi terhadap makanan dan obat-obatan sepanjang waktu. Mereka jauh lebih mudah diobati daripada COVID-19," jelas Dr. Wen.

    Dia mengatakan, kemungkinan kecil dari reaksi alergi yang jarang terjadi bukanlah alasan untuk tidak menerima vaksin. Manfaat yang sangat nyata dan substansial dari vaksin jauh lebih besar daripada risiko reaksi alergi yang sangat tidak umum (dan dapat diobati).

    4. Vaksin kekebalan terbatas

    "Memang benar kita tidak tahu berapa lama kekebalan dari vaksin akan bertahan. Penelitian sejauh ini mengatakan dapat bertahan setidaknya selama beberapa bulan. Tetapi kami tidak tahu apakah perlindungan kekebalan dari vaksin berkurang seiring waktu," ujarnya. Selain itu, mungkin juga cukup banyak mutasi yang mungkin muncul sehingga vaksin baru perlu dikonfigurasi, dan orang yang menerima vaksin mungkin memerlukan booster seperti dalam vaksin tetanus.

    Bisa jadi vaksin virus corona menjadi sesuatu yang harus kita dapatkan setiap tahun, seperti vaksin flu. "Tetapi hanya karena kita mungkin perlu mendapatkan vaksin lagi di kemudian hari, bukan berarti tidak perlu mendapatkannya untuk pertama kali," dia menjelaskan.

    5. Vaksin hanya untuk lansia

    Saat ini, ketika persediaan vaksin terbatas, dan pemerintah harus memprioritaskan mereka yang lebih mungkin sakit parah untuk mendapatkan vaksin terlebih dahulu. Setelah persediaan cukup, semua orang harus mendapatkan vaksin.

    "Alasannya. mereka yang masih muda dan sehat pun dapat tertular COVID-19 dan jatuh sakit. Selain itu, kita perlu mengupayakan herd immunity melalui vaksinasi. Itulah tingkat di mana virus akan melambat, dan mudah-mudahan bahkan menghentikan penyebarannya," kata Dr. Wen.

    6. Tanpa masker

    "Pemahaman kami saat ini adalah bahwa vaksin COVID-19 mencegah seseorang jatuh sakit, dan vaksin tersebut juga melindungi dari keparahan yang mengakibatkan rawat inap dan kematian. Itu sangat penting. Tetapi kami tidak tahu apakah vaksin tersebut mencegah seseorang menjadi pembawa virus corona yang dapat menginfeksi orang lain. Selain itu, vaksin tersebut tampaknya 95% efektif, tetapi tidak 100%," katanya.

    Itu sebabnya orang masih harus berhati-hati bahkan setelah mereka divaksinasi. Namun, pada titik tertentu, saat kita mendekati herd immunity melalui vaksinasi, kita dapat melepas masker. Sementara itu, anggap vaksin sebagai alat yang tidak menggantikan alat lain tetapi penting untuk menyelamatkan nyawa.

    Sumber: Link
     
Loading...
Similar Threads - Sebelum Percaya Baca
  1. Linda Nur Wakidah
    Replies:
    0
    Views:
    1,029

Share This Page