Setelah Wabah Corona Berakhir, Yuuk Kunjungi Komplek Candi Arjuna di Dieng

Discussion in 'Tourism' started by Nur Maulida, Apr 22, 2020.

  1. Nur Maulida

    Nur Maulida Member

    Joined:
    Mar 6, 2019
    Messages:
    48
    Likes Received:
    7
    Trophy Points:
    8
    [​IMG]
    Selama masa social distancing akibat wabah pandemi Corona, berbagai tujuan wisata di Indonesia menjadi sepi pengunjung. Meski begitu, beberapa pengelola masih merasa yakin jika wabah ini berakhir, maka tingkat kunjungan wisata akan segera membaik. Salah satunya adalah pengelola candi di wilayah Dieng, Jawa Tengah.

    Seperti diketahui, Dataran Tinggi Dieng merupakan satu di antara banyak tujuan destinasi wisata populer di Pulau Jawa. Memiliki kawasan candi seluas lebih kurang 90 hektare, dengan kompleks Candi Arjuna sebagai yang kawasan candi yang terluas dan terfavorit di antara kompleks candi-candi lainnya.

    Untuk berkunjung ke wilayah ini, Anda dapat menggunakan transportasi darat, baik roda dua maupun roda empat. Selain itu, Anda juga menggunakan jasa paket wisata Dieng yang ada di wilayah Anda.

    Di komplek Candi Arjuna, terdapat lima bangunan candi yang bisa dikunjungi, seperti Candi Arjuna, Candi Srikandi, Candi Sembadra, Candi Semar, dan Candi Puntadewa. Dari kelima candi tersebut, hanya Candi Semar yang tidak digunakan sebagai tempat bersembahyang.

    Selain itu, yang menarik adalah bentuk serta ornamen yang terdapat di setiap candi berbeda-beda. Hal ini menunjukkan bahwa keempat candi yang ada dibangun pada masa yang berbeda pula. Dari kelima candi tersebut, Candi Arjuna merupakan candi yang paling awal dibangun, sedangkan untuk candi termuda adalah Candi Sembadra.

    Candi Arjuna diketahui sebagai candi tertua karena dilihat dari gaya bangunan candi tersebut yang sangat kental dengan nuansa candi-candi di India. Sedangkan untuk Candi Sembadra diketahui sebagai candi termuda berdasarkan gaya bangunan yang terlihat sudah banyak dipengaruhi oleh kebudayaan lokal.
    [​IMG]
    Salah satu penentunya dilihat berdasarkan relung pada bagian candi. Jika relung cenderung menjorok ke dalam, maka dapat dikatakan jika candi tersebut didominasi gaya candi yang berasal dari India. Sedangkan jika relung cenderung menjorok ke luar, maka dapat dikatakan bahwa candi tersebut telah dipengaruhi dengan unsur kebudayaan lokal yang amat kuat.

    Berdasarkan sejarahnya, kompleks Candi Arjuna pertama kali ditemukan pada abad 18 oleh tentara Belanda, Theodorf Van Elf. Saat itu, kondisi candi cukup memprihatinkan karena tergenang air. Baru setelah 40 tahun berlalu, HC Corneulius seorang arkeolog berkebangsaan inggris yang kemudian melakukan misi penyelamatan candi. Setelah itu dilanjutkan oleh pria berkebangsaan Belanda, J Van Kimbergens.

    Jika dilihat secara keseluruhan, keempat candi utama yang biasa digunakan untuk beribadah memiliki ornamen yang sama, yaitu terdapat penil atau ornamen berbentuk pegangan di bagian tangannya. Selain itu, terdapat juga wajah raksasa tanpa rahang bawah yang letaknya berada di atas pintu masuk candi.

    Bukan hanya itu saja, terdapat juga jalatmara atau saluran air yang berfungsi untuk mengalirkan air yang berasal dari dalam candi ke salah satu sisinya.

    Hal menarik lainnya yang bisa Anda temukan di sini adalah terdapatnya candi sarana, yaitu candi yang biasa digunakan sebagai tempat berkumpul atau menunggu para umat sebelum mereka memasuki candi utama. Candi sarana ini hanya terdapat pada Candi Arjuna saja yang merupakan candi tertua dan terbesar di kompleks Candi Arjuna.
     
Loading...

Share This Page