Efek Samping Vaksin COVID-19 Bisa Jadi Pertanda Pernah Terinfeksi

Discussion in 'Health & Medical' started by bimo dimas, May 12, 2021.

  1. bimo dimas

    bimo dimas Member

    Joined:
    Oct 26, 2020
    Messages:
    233
    Likes Received:
    0
    Trophy Points:
    18
    [​IMG]

    Merahputih.com - Orang yang mengalami efek samping tertentu setelah menerima vaksin COVID-19, seperti pembengkakan kelenjar getah bening, mungkin sebelumnya telah terinfeksi virus Corona. Demikian hasil sebuah studi baru yang versi pracetaknya diterbitkan di medRxiv. Studi ini belum ditinjau sejawat.

    Efek samping yang umum seperti demam, kelelahan, nyeri otot dan nyeri sendi juga lebih umum terjadi pada mereka yang pernah mengalami infeksi virus SARS-CoV-2 sebelumnya.

    Dugaan infeksi COVID-19 sebelumnya memiliki hubungan dengan peningkatan risiko pembengkakan kelenjar getah bening setelah vaksinasi, tulis para peneliti. Namun, penemuan ini berbeda pada penyintas "long-haul COVID-19" atau yang merasakan gejala jangka panjang setelah COVID-19 dinyatakan sembuh.

    Para peneliti di tiga rumah sakit di Inggris Raya mensurvei petugas kesehatan setelah dosis pertama vaksin Pfizer. Di antara 974 petugas kesehatan yang disurvei, 265 melaporkan tes atau antibodi COVID-19 positif sebelum divaksinasi.

    Perempuan dan orang yang lebih muda lebih mungkin melaporkan lebih banyak efek samping, tingkat keparahan yang lebih tinggi dan durasi gejala yang lebih lama, setelah menerima vaksi. Demikian hasil penelitian.

    Sekitar 4% dari mereka yang telah pulih dari COVID-19 mengalami pembengkakan kelenjar getah bening setelah vaksinasi, dibandingkan dengan kurang dari 1% dari mereka yang tidak mengalami infeksi sebelumnya. Selain itu, 8% dari mereka yang tertular COVID-19 melaporkan demam sebagai efek samping, dibandingkan dengan 2% dari mereka yang tidak pernah terinfeksi.

    Nyeri otot dan kelelahan juga dilaporkan lebih sering. Sekitar 30% dari mereka yang telah terinfeksi melaporkan nyeri otot, dibandingkan dengan 15% yang tidak mengalami infeksi sebelumnya. Sekitar 29% yang tertular COVID-19 melaporkan kelelahan, dibandingkan dengan 20% yang tidak tertular virus.

    Sementara itu, untuk efek samping nyeri tempat suntikan dan gejala gastrointestinal hampir sama pada kedua kelompok.

    Di antara 265 petugas kesehatan yang memiliki infeksi COVID-19 sebelumnya, 30 orang melaporkan gejala "long-haul COVID-19" yang berlangsung beberapa bulan setelah sakit. COVID-19 jangka panjang ini tidak berhubungan dengan efek samping yang lebih parah dari vaksin.

    Selain itu, tim peneliti tidak menemukan perbedaan yang signifikan dalam jumlah atau tingkat keparahan efek samping berdasarkan waktu saat orang terinfeksi dan saat mereka menerima vaksin.

    “Ada implikasi kesehatan masyarakat sehubungan dengan keraguan vaksin, yang sedikit didorong oleh rasa takut akan (efek samping),” para peneliti menyampaikan seperti diberitakan webmd.com (11/5).

    “Data ini dapat mendukung informasi (efek samping) terkait vaksin. Dan, melalui pemahaman yang lebih baik, membantu memerangi keraguan vaksin,” mereka menambahkan.

    Sumber: Link
     
Loading...

Share This Page