Foto: REUTERS/Sarah Meyssonnier
Greenland, pulau terbesar di dunia yang bukan benua, punya hubungan erat dengan Denmark yang telah berlangsung selama hampir seribu tahun. Meski letaknya jauh dari Eropa, Greenland sampai saat ini masih menjadi bagian dari Kerajaan Denmark. Namun akhir-akhir ini, dunia dibuat geger oleh keinginan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang ingin mengambil alih wilayah ini. Apa sebabnya?
Sejarah Kenapa Greenland Milik Denmark
Hubungan Greenland dengan Denmark bermula dari kedatangan bangsa Viking (Norse) pada abad ke-10. Dipimpin oleh Erik the Red, mereka mendirikan pemukiman di bagian selatan Greenland sekitar tahun 1200-an dan membawa ikatan politik serta budaya dengan Skandinavia.
Walaupun pemukiman Viking tersebut hilang sekitar tahun 1500 M, klaim Denmark atas Greenland justru berkembang. Pada era modern, Greenland resmi menjadi koloni Denmark hingga 1953, lalu berubah status menjadi distrik Denmark yang memberi ruang lebih bagi penduduk Greenland untuk terlibat dalam politik.
Pada 1979, Greenland mulai mendapat hak pemerintahan sendiri (home rule), kemudian diperluas lagi lewat Self-Government Act tahun 2009. Kini, Greenland mengelola urusan dalam negeri seperti pendidikan dan kesehatan, namun Denmark masih memegang kendali urusan luar negeri, pertahanan, dan keamanan. Greenland juga memiliki dua wakil di parlemen Denmark, Folketing, serta dana bantuan dari pemerintah Denmark.
Kenapa Trump Ingin Ambil Alih Greenland?
Tahun-tahun terakhir, Presiden AS Donald Trump menyampaikan keinginannya untuk membeli Greenland dari Denmark. Meskipun menimbulkan gelak tawa dan penolakan, niat ini ternyata didasari sejumlah alasan strategis penting, antara lain:
1. Keamanan Nasional AS
Greenland punya posisi strategis di jalur antara Eropa dan Amerika Utara. Amerika Serikat menggunakan pulau ini sebagai lokasi penting bagi radar dan sistem peringatan dini rudal balistik. Selain itu, perubahan iklim yang mencairkan es membuka jalur pelayaran baru dan akses ke sumber daya alam yang bernilai tinggi.
2. Pengaruh di Kawasan Arktik
Arktik kini menjadi medan persaingan geopolitik negara-negara besar seperti Rusia dan China. Memiliki Greenland berarti memperkuat pengaruh Amerika di kawasan tersebut. Di Greenland ada pangkalan militer AS di Pituffik yang vital bagi pertahanan.
3. Potensi Ekonomi
Greenland kaya akan mineral, minyak, gas, dan rare earth minerals yang sangat penting untuk teknologi dan pertahanan masa depan. Saat es mencair, akses terhadap sumber daya ini makin mudah, menjadikan pulau tersebut bernilai strategis tinggi.
NATO Bela Denmark, Tegaskan Kedaulatan Greenland
Pernyataan Donald Trump tentang kemungkinan menguasai Greenland membuat negara-negara NATO khawatir dan bereaksi keras. Mereka menyerukan agar kedaulatan Greenland dihormati, dan masa depannya hanya bisa ditentukan oleh Denmark dan rakyat Greenland sendiri.
Trump pun kembali menyinggung soal ketidakadilan kontribusi negara-negara NATO. Dalam unggahan di media sosial Truth Social, ia mengatakan:
"Kita akan selalu ada untuk NATO, bahkan jika mereka tidak akan ada untuk kita."
"AS, dengan bodohnya, membayar untuk mereka! Saya, secara terhormat, membuat mereka mencapai 5 persen PDB, dan mereka membayar."
Sementara itu, Denmark bersama negara-negara seperti Prancis, Jerman, Italia, Polandia, Spanyol, dan Inggris, menegaskan dalam pernyataan bersama bahwa Greenland bukan untuk diperebutkan, melainkan hanya bisa ditentukan oleh Denmark dan penduduk Greenland.